Eudaimonia adalah kata atau term yang digunakan Aristoteles untuk menggambarkan konsep “kebahagiaan”. Eudaimonia menjadi salah satu landasan aku secara pribadi dalam memaknai apa itu “kebahagiaan” di tengah kemelut quarter life of crisis di tahun 2020-2022 kemarin.
Nah, aku akan mencoba menyajikan alur berpikirku secara pribadi tentang apa itu bahagia step by step. Hopefully, aku bisa menyampaikan secara runtut agar kalian tidak bingung. Here we go!
Chapter 1: Mencoba Mengenal “Apa itu Bahagia“
Dulu aku selalu menganggap bahwa menjadi “Bahagia” merupakan hasil dari manajemen ekspektasi dengan rumus sederhana:
Bahagia = Realita > Ekspektasi
Selagi “Realita” selalu lebih besar daripada “Ekspektasi”, aku pikir aku akan merasa “Bahagia”. Setelah mengimplementasikan konsep ini beberapa kali, aku menjadi kehilangan desire untuk menjadi pribadi yang lebih baik karena sehari-hari aku akan berusaha untuk menekan ekspektasiku serendah mungkin.
Apakah aku merasa “Bahagia”? Jawabannya, aku rasa tidak. Alasannya, karena aku merasa tidak berkembang dan menjalani hidup yang membosankan. Ultimately, I felt like I wasn’t living my life anymore cause all of the time I just made sure that I didn’t expect anything.
Chapter 2: Prolog “Kebahagiaan”

One day , aku iseng beli buku “ABC Filsafat” karya Daffin Davanka tahun 2021. Mulai dari sini sampai akhir artikel, aku mengambil banyak pemikiran dan mengutip dari buku Beliau.
Aku menemukan pemikiran yang menarik tentang kebahagiaan pada BAB 8 Cinta dan Kebahagiaan. I will try to tell you from my perspective,
Note 1: “Orang yang berbeda menikmati hal yang berbeda tergantung pada preferensi dan nilai mereka”
Clear, tidak perlu membandingkan dengan orang lain mengenai apa yang penting bagiku, apa yang membuatku senang, dan apa yang membuat hidupku menjadi baik. Orang lain mengatakan sepak bola itu seru, nonton konser itu menyenangkan, party is a life, etc. But on the other hand, some people says membaca buku itu magic world, meditation is refreshing, etc.
In conclusion, tidak ada yang bisa memutuskan apa yang aku sukai dan tidak aku sukai selain diriku sendiri. Jadi, kebahagiaan dan kehidupan yang baik untukku ya memang terserahku.
But here is the first problem, slowly but certainly, masuklah paham “Konsumerisme”
Note 2: “Konsumerisme sebagai filsafat hidup memberitahu kita bahwa yang baik bagi kita adalah mendapatkan apa yang kita inginkan”
Karena aku akan menciptakan kebahagiaan dan kehidupan yang baik menurutku sendiri, secara tidak langsung aku akan mengejar apa yang aku inginkan. Aku akan berlari ke arah hal-hal yang aku inginkan, and most of all it comes to ‘buying things’ . Tapi, apakah itu menjadi baik untukku?
Daffin memberikan contoh mengenai analogi anak manja yang kita semua pasti setuju bahwa anak manja seringkali mendapatkan apa yang dia inginkan. Mendapatkan apa yang diinginkan akan terasa menyenangkan bagi si anak manja.
Tapi apakah anak manja akan selalu merasa bahagia ketika dia mendapatkan apa yang dia inginkan? Kenyataannya, biasanya mereka akan cepat merasa bosan dan kembali menginginkan hal lain. Lalu, apakah menurut kalian orang tua mereka berhasil memberikan mereka kebahagiaan? Atau hanya semata memuaskan keinginan si anak manja?
Note 3: “Keinginan kita tidak hanya bertentangan, tetapi juga bersaing untuk mendapatkan hak istimewa untuk memerintah diri kita“
Sebagai manusia, kita tentu memiliki banyak sekali keinginan. Seringkali kita percaya bahwa kita akan bahagia jika keinginan kita tercapai. Tapi, apakah tercapainya semua keinginan mampu memberikan kebahagiaan?
Daffin menggunakan contoh program diet. Aku pun beberapa kali melakukan diet karena menginginkan tubuh yang kurus agar diriku terlihat menarik. Di sisi lain, aku sangat menyukai keju dan coklat. Keinginan untuk menjadi kurus dan keinginan craving makan coklat menjadi dua keinginan yang bertentangan dan saling bersaing untuk memenangkan keputusanku.
Aku mungkin akan bahagia jika berhasil memenuhi keinginanku untuk makan coklat, tapi juga tidak bahagia karena program dietku gagal. Lalu, aku sebenarnya bahagia atau tidak?
Chapter 3: Aristoteles dan Eudaimonia

Most of the time, we might think that happiness is the effect of something.
Kalau aku makan coklat, aku akan bahagia. Kalau aku beli iPhone, aku akan bahagia. Kalau aku punya pasangan, aku akan bahagia. Hal ini mengarahkan kita untuk berpikir bahwa kebahagiaan bersifat pasif, serta-merta hanya berupa perasaan atau suasana hati.
Aristoteles beranggapan bahwa kebahagiaan bersifat aktif. Aristoteles tidak terlalu tertarik pada kebahagiaan sebagai bentuk suasana hati. Dia lebih tertarik pada mendapatkan kehidupan yang baik sebagai kebahagiaan itu sendiri dalam pengertian yang luas.
Eudaimonia memiliki arti “hidup dengan baik dan baik-baik saja”, sehingga kebahagiaan bisa diartikan sebagai mendapatkan kehidupan yang baik. Aristoteles kemudian menekankan pada kehidupan yang baik tidak hanya bersifat sementara tapi harus sebagai tujuan akhir. Nah, tujuan ini yang harus secara aktif kita kejar.
Kita perlu merumuskan hal-hal apa saja yang bisa membuat kehidupan kita menjadi baik. Pada akhirnya, terjadilah kompromi antar keinginan untuk menuju kehidupan yang baik melalui penilaian reflektif dengan mengejar nilai intrinsik.
Note 4: “Penting untuk kita berpikir jernih dalam memilih mana yang baik untuk diri kita dan menerapkan pengendalian diri yang baik“
Merumuskan perspektif yang benar dengan kehidupan yang baik menuntut kita untuk melampaui preferensi subjektif. Kita harus mengeksplor, mencari tahu, menemukan, dan berpikir yang benar mengenai hal-hal yang baik untuk kita.
Chapter 4: Lalu, Apakah Kebahagiaan Tidak Se-Menyenangkan Itu?
“Bagaimana jika ini terlalu kompleks dan aku tidak menginginkan yang terbaik untuk diriku sendiri? Apakah kemudian aku tidak bahagia dan menderita?“
Well, Aristoteles beranggapan bahwa kecenderungan dan preferensi kita bersifat fleksibel dimana kita memiliki kemampuan penuh untuk membentuknya by the times.
Note 5: “Kehidupan yang baik dapat dicapai melalui usaha menyesuaikan keinginan kita dengan minat kita“
Intinya di sini adalah dengan terus mengeksplorasi diri kita sendiri untuk mengetahui apa yang baik untuk kita. Sehingga pada akhirnya kita bisa menyesuaikan keinginan yang kita miliki dengan minat kita. Perlu diingat, ini semua butuh waktu. Kita tidak bisa langsung begitu saja memilih apa yang terbaik untuk kita.
Hal terpenting dalam proses ini adalah melakukan beberapa perubahan melalui pembentukan kebiasaan. Kebiasaan baik juga berpotensi menjadi candu seperti halnya kebiasaan buruk. Kekuatan yang kita miliki untuk mendapatkan kehidupan yang baik bertumpu pada kemampuan untuk membentuk kebiasaan.
Note 6: “Kunci untuk menjadi bahagia dan hidup dengan baik adalah membentuk kecenderungan, preferensi, dan kesenangan kita melalui pembiasaan“
Daffin kemudian menegaskan bahwa orang yang berbudi luhur dapat dengan sepenuh hati mengejar apa yang paling menyenangkan hatinya karena hal itu akan selaras dengan apa yang terbaik untuknya.
Poin penting disini adalah koherensi antara keinginan, kecenderungan, dan motivasi.
Chapter 5: Apakah Kita Bisa Mengejar Kebahagiaan?
Note 7: “Kebahagiaan juga membutuhkan keberuntungan”
Untuk mengeksplorasi diri dan menemukan kehidupan yang baik untuk kita, seringkali tidak bisa terelakkan dari adanya kebutuhan akan ruang dan kesempatan untuk melakukannya. Seseorang yang sangat miskin dan selalu berpikir besok bisa makan atau tidak, mungkin akan sulit untuk memiliki ruang berpikir dan mencari kehidupan yang baik untuk dirinya. Tapi, kekayaan dan kemakmuran juga tidak berarti kita tidak memiliki hambatan dalam menemukan kehidupan yang baik untuk diri kita sendiri.
Lalu, apakah semua orang bisa mengejar kebahagiaan? Well, Daffin mengatakan we need still cukup keberuntungan untuk memiliki ruang dan kesempatan dalam proses mencari kehidupan yang baik walaupun tidak ada yang bisa memastikan seberapa banyak dan keberuntungan yang bagaimana yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan yang baik. Itu akan berakhir pada persepsi masing-masing setiap orang.
Chapter 6: Epilog and Personal Thought

Aku pikir aku cukup beruntung bisa mempelajari dan mengeksplorasi diriku untuk merumuskan apa yang baik dalam kehidupanku yang pada akhirnya mengarah pada kebahagiaan yang sejak awal sudah dibahas. Tapi, aku tidak mengatakan bahwa aku sudah menemukan keseluruhan konsep kehidupan yang baik untuk diriku seperti apa. Aku masih berproses untuk terus mencari dan menemukan.
Terlepas daripada itu, konsep eudaimonia secara pribadi membuatku terlepas dari belenggu serta-merta manajemen ekspektasi dan pengagungan pada pemenuhan keinginan yang berakhir pada hedonisme untuk merasakan bahagia.
Eudaimonia sejalan dengan hal yang aku sukai, yaitu growth. Menjalani kehidupan secara reflektif dan menelisik esensinya untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik.
Pada prosesnya memang sulit karena aku menyadari bahwa kita hidup dengan pengalaman, luka, dan lingkungan yang berbeda. Sehingga memang benar bahwa kita sendirilah yang perlu fokus untuk berbenah dan mendapatkan kehidupan yang baik. Tidak ada yang tahu apa yang terbaik untuk kita selain diri kita sendiri.
Akhir kata, “Selamat Bertumbuh dan Menciptakan Kebahagiaan Masing-Masing!”
Any thoughts? Let’s discuss!
Note:
Still in the end, pemikiran ini banyak didominasi oleh buku ABC Filsafat karya Daffin Davanka, mungkin kedepannya akan aku tambahkan ketika aku menemukan referensi lain. Kalau ada kesalahan penafsiran bisa langsung reach out ya! Thanks!